Kategori: Akhlak

  • Etika Salaf Saat Menyampaikan As-Sunnah Atau Hadits

    Etika Salaf Saat Menyampaikan As-Sunnah Atau Hadits

    Oleh: Abu Al-Jauzaa

    Diriwayatkan bahwa Ismail bin Abi Uwais berkata: “Jika Malik ingin berwudhu, dia akan duduk di dada tempat tidurnya dan membiarkan janggutnya tumbuh, dan dia bisa duduk di dalamnya dengan martabat dan gengsi. Dia bisa menyucikan diri, dan dia benci berbicara di jalan atau saat berdiri atau terburu-buru, dan dia berkata: Saya ingin memahami apa yang dia ceritakan atas otoritas Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian.

    Diriwayatkan dari Isma’il bin Abi Uwais bahwa ia berkata: “Adalah Malik ketika ingin menyampaikan hadits, maka ia berwudhu terlebih dahulu kemudian duduk di tengah karpetnya, menyisir/meluruskan jenggotnya, mendirikan tempat duduknya. dengan penuh otoritas dan kemuliaan. Setelah itu, dia baru mengirimkannya. Setelah ditanya tentang hal itu, dia menjawab: ‘Saya senang untuk menghormati hadits Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Aku tidak menyampaikannya kecuali dalam keadaan benar-benar suci’. Malik benci meriwayatkan hadits di tengah jalan, atau sambil berdiri, atau terburu-buru. Dia (Malik) berkata: ‘Saya ingin seseorang benar-benar memahami apa yang saya sampaikan kepadanya dari Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.

    Diriwayatkan dari Malik: “Seorang pria datang kepada Saeed bin Al-Musayyab ketika dia sakit dan bertanya tentang sebuah hadits ketika dia sedang berbaring, jadi dia duduk dan berbicara dengannya. Pria itu berkata kepadanya: Saya berharap Anda tidak keras kepala, jadi dia berkata kepadanya: Saya benci berbicara dengan Anda tentang Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian, ketika saya sedang berbaring. .

    Diriwayatkan dari Malik: “Seseorang datang kepada Sa’id bin Al-Musayyib ketika dia sakit. Pria itu bertanya kepadanya tentang sebuah hadits di mana dia (Sa’id) sedang berbaring. Jadi dia duduk dan menceritakannya. Pria itu bertanya kepadanya: ‘Saya tidak bermaksud mengganggu Anda’. Sa’id berkata: “Aku tidak suka menyampaikan sebuah hadits dari Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam  kepadamu sambil berbaring”.

    Dan dia keluar atas otoritas Al-Amash bahwa jika dia ingin terjadi tanpa kemurnian, dia akan melakukan tayamum. Al-Amash berkata atas otoritas Dirar bin Murra, yang mengatakan: Mereka benci berbicara ketika itu tidak murni.

    Diriwayatkan dari Al-A’masy: Bahwa jika dia ingin menyampaikan sebuah hadits secara najis, maka dia bertayamum. Al-A’masy meriwayatkan dari Dlaraar bin Murrah bahwa dia berkata: “Mereka (para sahabat) tidak suka meriwayatkan hadits dalam keadaan najis”.

    Dan dia meriwayatkan bahwa Qatada berkata: “Disarankan agar kita tidak membaca hadits Nabi, semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian, kecuali dalam keadaan suci.”

    Diriwayatkan dari Qataadah, beliau bersabda: “Sangat dianjurkan untuk tidak membaca hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali dalam keadaan suci”.

    Diriwayatkan atas otoritas Bishr bin Al-Harits bahwa dia berkata: “Seorang pria bertanya kepada Ibn Al-Mubarak tentang sebuah hadits ketika dia sedang berjalan, dan dia berkata: Ini bukan karena menghormati ilmu.”

    Dikisahkan oleh Bisyr bin Al-Haarith, dia berkata: “Seorang pria pernah bertanya kepada Ibn al-Mubaarak tentang sebuah hadits ketika dia (Ibn al-Mubaarak) sedang berjalan. Beliau juga mengatakan: “Ini bukan cara/adab dalam menghormati ilmu”.

    Dia meriwayatkan bahwa Ibn Al-Mubarak berkata: “Aku bersama Malik ketika dia berbicara, dan seekor kalajengking datang dan menyengatnya enam belas kali, dan Malik berubah warna dan bersabar dan tidak memotong hadits Rasulullah, semoga Allah memberkati dia dan memberinya kedamaian. Saya bersabar untuk menghormati hadits Rasulullah, semoga Tuhan memberkati dia dan memberinya kedamaian.

    Diriwayatkan dari Ibnu al-Mubarak. Dia berkata: “Saya bersama Malik ketika dia sedang meriwayatkan sebuah hadits. Tiba-tiba seekor kalajengking menyengatnya enam belas kali. Wajah Malik pun berubah (karena disengat), namun ia tetap sabar tanpa henti (menyampaikan) hadits Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Setelah dia selesai berkumpul dan orang-orang bubar, saya berkata kepadanya: ‘Saya benar-benar melihat hal yang aneh pada dirimu’. Dia menjawab: ‘Benar. Saya telah bersabar (dari sengatan kalajengking) untuk mengagungkan hadits Nabi  Shallallahu ‘alaihi wa sallam “.

    Mau Kuliah Ilmu Secara Online ? Yuk Klik Disini

    [Miftaahul-Jannah fil-Ihtijaaj bis-Sunnah oleh Al-Haafidh As-Suyuthiy, hal. 51-52; Universitas Islam Madinah, Cet. 3/1409 H – abu al-jauzaa’, perumahan ciomas permai, ciomas, bogor]

  • Larangan Berlomba-Lomba Dalam Urusan Dunia

    Larangan Berlomba-Lomba Dalam Urusan Dunia

    Oleh: Abu Al-Jauzaa

    Allah ta’ala berfirman :

    إِنَّمَا مَثَلُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ النَّاسُ وَالأنْعَامُ حَتَّى إِذَا أَخَذَتِ الأرْضُ زُخْرُفَهَا وَازَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَا أَنَّهُمْ قَادِرُونَ عَلَيْهَا أَتَاهَا أَمْرُنَا لَيْلا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَاهَا حَصِيدًا كَأَنْ لَمْ تَغْنَ بِالأمْسِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

    Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi, di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanaman tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang yang berpikir” [QS. Yunus : 24].

    وَاضْرِبْ لَهُمْ مَثَلَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا كَمَاءٍ أَنْزَلْنَاهُ مِنَ السَّمَاءِ فَاخْتَلَطَ بِهِ نَبَاتُ الأرْضِ فَأَصْبَحَ هَشِيمًا تَذْرُوهُ الرِّيَاحُ وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقْتَدِرًا * الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

    Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia adalah sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan” [QS. Al-Kahfi : 45-46].

    Anda sedang membaca artike yang berjudul ” Larangan Berlomba-Lomba dalam Urusan Dunia “

    اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الأمْوَالِ وَالأوْلادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” [QS. Al-Hadiid : 20].

    يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

    Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah” [QS. Faathir : 5].

    فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا اقْتُلُوهُ أَوْ حَرِّقُوهُ فَأَنْجَاهُ اللَّهُ مِنَ النَّارِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

    Maka tidak adalah jawaban kaum Ibrahim, selain mengatakan: “Bunuhlah atau bakarlah dia”, lalu Allah menyelamatkannya dari api. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman” [QS. Al-Ankabuut : 64].

    Diriwayatkan dari ‘Amr bin ‘Auf radliyallaahu ‘anhu :

    أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بعث أبا عبيدة بن الجراح إلى البحرين يأتي بجزيتها، وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم هو صالح أهل البحرين وأمر عليهم العلاء بن الحضرمي، فقدم أبو عبيدة بمال من البحرين، فسمعت الأنصار بقدوم أبي عبيدة فوافت صلاة الصبح مع النبي صلى الله عليه وسلم، فلما صلى بهم الفجر انصرف، فتعرضوا له فتبسم رسول الله صلى الله عليه وسلم حين رآهم، وقال: (أظنكم قد سمعتم أن أبا عبيدة قد جاء بشيء). قالوا: أجل يا رسول الله، قال: (فأبشروا وأملوا ما يسركم، فوالله لا الفقر أخشى عليكم، ولكن أخشى عليكم أن تبسط عليكم الدنيا، كما بسطت على من كان قبلكم، فتنافسوها كما تنافسوها، وتهلككم كما أهلكتهم).

    Bahwasannya Rasululah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarraah ke Bahrain untuk mengambil harta jizyah; dan ketika itu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengadakan perjanjian damai dengan orang-orang Bahrain dengan mengangkat Al-‘Alaa’ bin Al-Hadlramiy sebagai gubernur di sana. Maka Abu ‘Ubaidah pun datang dengan membawa harta dari Bahrain. Orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu ‘Ubaidah. Mereka pun mengerjakan shalat Shubuh bersama Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika telah selesai shalat Shubuh, beliau berpaling. Mereka pun mendatangi beliau. Maka, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tersenyum saat melihat kedatangan mereka, dan bersabda : “Aku kira kalian telah mendengar Abu ‘Ubaidah telah datang dengan membawa sesuatu”. Mereka berkata : “Benar wahai Rasulullah”. Beliau bersabda : “Bergembiralah dan harapkanlah untuk memperoleh apa-apa yang menyenangkan kalian. Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan atas diri kalian. Namun yang aku takutkan atas diri kalian adalah akan dibentangkannya dunia pada kalian, sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian. Maka kalian akan berlomba-lomba sebagaimana mereka dulu telah berlomba-lomba (untuk mendapatkannya). Lalu kalian akan binasa sebagaimana mereka dulu telah binasa”.[1]

    Anda sedang membaca artike yang berjudul ” Larangan Berlomba-Lomba dalam Urusan Dunia “

    Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    أن النبي صلى الله عليه وسلم جلس ذات يوم على المنبر، وجلسنا حوله، فقال: (إني مما أخاف عليكم من بعدي ما يفتح عليكم من زهرة الدنيا وزينتها)

    Bahwasannya Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah duduk pada suatu hari di atas mimbar. Kami pun duduk di sekitar beliau. Maka beliau bersabda : “Sesungguhnya yang aku takutkan atas diri kalian setelahku adalah dibukakannya bunga (kemegahan) dunia dan perhiasannya kepada kalian”.[2]

    Dan diriwayatkan juga dari Abu Sa’id Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    إن الدنيا حلوة خضرة. وإن الله مستخلفكم فيها. فينظر كيف تعملون. فاتقوا الدنيا واتقوا النساء. فإن أول فتنة بني إسرائيل كانت في النساء.

    Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sesungguhnya Allah akan menyerahkannya kepada kalian dan melihat apa yang akan kalian lakukan. Maka, berhati-hatilah kalian pada dunia, dan berhati-hatilah juga pada para wanita ! Karena fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil datang dari para wanita”.[3]

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    ألا إن الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالم أو متعلم

    Ketahuilah, bahwa sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula apa-apa yang ada di dalamnya. Kecuali dzikir kepada Allah, apa-apa yang mendekatkan diri kepada-Nya, orang yang mengajarkan ilmu, atau orang yang belajar ilmu”.[4]

    Kandungan Bab :

    1. Dunia itu cepat hilangnya, dan berpegang pada dunia adalah fatamorgana. Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang kekal abadi yang tidak akan hilang atau habis.
    2. Peringatan bagi siapa saja yang dibukakan dunia kepadanya dari buruknya akibat dan firnah yang ditimbulkannya. Maka janganlah ia merasa tenang dengan kemegahannya.
    3. Berlomba-lomba dalam urusan duniaakan menyeret manusia kepada kerusakan agama dan dunia. Karena harta itu sangat menggiurkan hingga jiwa pun suka dan mencarinya. Ia merasa nikmat dengannya. Dan itu dapat memicu timbulnya permusuhan, pertumpahan darah, dan menyeret kepada kebinasaan.
    4. Seorang mukmin tidaklah merasa tenang kepada harta dan tidak pula tenggelam di dalamnya. Karena harta itu tidaklah ada nilainya di sisi Allah meskipun hanya seperti sayap nyamuk. Oleh karena itu, seorang mukmin hidup di dunia seperti hidup di dalam penjara, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

    الدنيا سجن المؤمن وجنة الكافر

    Dunia itu penjara bagi orang mukmin dan surga bagi bagi orang kafir”.[5]

    Ia merasa rindu dengan kampungnya yang pertama di surga yang abadi. Semoga Allah merahmati Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah yang mengatakan :

    وحي على جنات عدن فإنها منازلك الأولى وفيها المخيم

    ولكننا سبي العدو فهل ترى نعود إلى أوطاننا ونسلم

    وأي اغتراب فوق غربتنا التي لها أضحت الأعداء فينا تحكم

    وقد زعموا أن الغريب إذا نأى وشطت به أوطانه ليس ينعم

    فمن أجل ذا لا ينعم العبد ساعة من العمر إلا بعد ما يتألم

    “Marilah segera menuju jannah ‘Adn,

    karena sesungguhnya adalah tempatmu pertama dan di dalamnya ada tempat tinggal

    Akan tetapi kita tawanan musuh

    apakah menurut pandanganmu kita bisa kembali ke kampung kita dengan selamat ?

    Keterasingan siapa lagi yang lebih hebat dari keterasingan kita

    yang mana musuh-musuh menguasai kita

    Mereka mengira bahwasannya orang yang asing

    adalah orang yang jauh dari tempat tinggalnya dan tidak merasa nikmat

    Karena itulah seorang hamba tidaklah merasa nikmat walau sesaat dari umurnya

    kecuali setelah ia merasakan sakit.[6]

    Anda sedang membaca artike yang berjudul ” Larangan Berlomba-Lomba dalam Urusan Dunia “

    1. Selayaknya kita menjadikan dunia sebagai tempat lintas menuju kampung akhirat, karena dunia ini akan binasa dan bukan kampung yang abadi. Tempat lintas bukan tempat menetap. Sungguh baik orang yang mengatakan :

    إن لله عبادا فطنا طلقوا الدنيا وخافوا الفتنا

    نظروا فيها فلما علموا أنها ليست لحي وطنا

    جعلوها لجة واتخذوا صالح الأعمال فيها سفنا

    “Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang bijak

    mereka meninggalkan dunia dan takut fitnah

    Mereka melihat dan memperhatikannya, maka setelah mereka mengetahui

    bahwa dunia bukanlah tempat tinggal untuk hidup

    Maka mereka menjadikannya sebagai samudera

    dan amal shalih sebagai bahteranya”.

    Demikian artikel tentang larangan berlomba-lomba dalam urusan dunia, jika anda ingin belajar ilmu syar’i lebih mendalam anda bisa kuliah online di Pondok Media Institue. Info lebih lanjut klik disini.

    [selesai – dikutip oleh Abu Al-Jauzaa’ dengan beberapa perubahan dan penambahan dari Ensiklopedi Larangan Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah – edisi terjemah karya Asy-Syaikh Salim Al-Hilaliy, 3/416-421; Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Cet. 1/1427].

    [1]    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 3158 dan Muslim no. 2961.

    [2]    Diriwayatkan oleh Al-Bukhari no. 1465 dan Muslim no. 1052.

    [3]    Diriwayatkan oleh Muslim no. 2742.

    [4]    Hadits shahih lighairihi; diriwayatkan oleh At-Tirmidzi no. 2322, Ibnu Majah no. 4112, Al-Baihaqi dalam Syu’abul-Iman no. 1708, dan Ibnu Abi ‘Aashim dalam Az-Zuhd no. 57. Dari jalur ‘Abdurrahman bin Tsaabit, ia berkata : “Aku mendengar ‘Atha’ bin Qurrah : Aku mendengat ‘Abdullah bin Hamzah berkata : Aku mendengar Abu Hurairah berkata : (lalu ia menyebutkan hadits tersebut)”. Saya (Asy-Syaikh Saliim Al-Hilaliy) katakan : “Sanadnya hasan”.

    Hadits ini mempunyai penyerta dari jalur Wahib bin Al-Ward Al-‘Aabid dari ‘Atha’ bin Qurrah yang dikeluarklan oleh Al-Baghawiy dalam Syarhus-Sunnah no. 4028.

    Dan hadits ini mempunyai beberapa penguat dari beberapa orang shahabat di antaranya Jaabir bin ‘Abdillah, Abu Darda’, Abu Sa’id, Ibnu Mas’ud, dan ‘Ali radliyallaahu ‘anhum.

    [5]    Hadits shahih; diriwayatkan oleh Muslim no. 2956, At-Tirmidzi no. 4113, Al-Haakim 4/315, Abu Ya’la no. 6465, Ibnu Hibban no. 676-677, dan Abu Nu’aim 6/350.

    [6]    Madaarijus-Saalikiin, hal. 3/200-201; Daarul-Kitaab Al-‘Arabiy, Cet. 2/1393 H.

  • Lembut Dalam Berbicara & Menghindari Kata-Kata Yang Tidak Berarti

    Lembut Dalam Berbicara & Menghindari Kata-Kata Yang Tidak Berarti

    Oleh: Abu Al-Jauzaa

    Sesungguhnya pembicaraan yang lembut dapat meluluhkan jiwa yang durhaka, membuatnya mendekat kepada jalan yang benar, dan mendengarkan dalil-dalil serta nasihat.

    Allah ta’ala berfirman dalam berbicara kepada Harun ‘alaihis-salaam dan Musa ‘alaihis-salaam:

    اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى * فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لّيّناً لّعَلّهُ يَتَذَكّرُ أَوْ يَخْشَىَ

    ”Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut” [QS. Thaahaa : 43-44].

    Allah ta’ala mengajarkan Musa secara lisan tentang perkataan-perkataan yang lembut, sebaik-baik hal yang Allah ta’ala bicarakan kepada penguasa yang lalim, Fir’aun. Ia berkata kepada kaumnya,”Akulah tuhan kalian yang tertinggi”. Maka Allah ta’ala berfirman :

    فَقُلْ هَل لّكَ إِلَىَ أَن تَزَكّىَ * وَأَهْدِيَكَ إِلَىَ رَبّكَ فَتَخْشَىَ

    ”Dan katakanlah (kepada Fir’aun) : Apakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar supaya kamu takut kepada-Nya” [QS. An-Naazi’at : 18-19].

    Ibnul-Qayyim rahimahullah berkata : ”Perhatikanlah contoh yang terdapat pada diri Musa, ketika beliau diperintahkan oleh Allah ta’ala untuk menyampaikan perkataan kepada Fir’aun :

    هَل لّكَ إِلَىَ أَن تَزَكّىَ * وَأَهْدِيَكَ إِلَىَ رَبّكَ فَتَخْشَىَ

    ”….Apakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan). Dan kamu akan kupimpin ke jalan Rabb-mu agar supaya kamu takut kepada-Nya” [QS. An-Naazi’at : 18-19].

    Allah ta’ala mengungkapkan firman-Nya kepada Fir’aun dengan cara pertanyaan dan penjelasan, bukan dengan bentuk perintah. Allah ta’ala berfirman : ”Hingga ia menyucikan diri” (إِلَىَ أَن تَزَكّىَ ), dan tidak berfirman : ”Hingga aku mensucikanmu”.

    Anda sedang membaca artikel yang berjudul ” Lembut Dalam Berbicara & Menghindari Kata-Kata Yang Tidak Berarti “

    Allah ta’ala mengaitkan perbuatan kepada diri-Nya dan menyebutkan kata At-Tazakky tanpa yang lainnya karena ada padanya keberkahan, kebaikan, dan pertumbuhan.

    Kemudian Allah ta’ala berfirman [وَأَهْدِيَكَ إِلَىَ رَبّكَ ] ”Dan saya memberikan petunjuk kepada Rabbmu”. Saya menjadi seorang petunjuk jalan bagimu yang berjalan di depanmu. Allah ta’ala berfirman : [إِلَىَ رَبّكَ ] ”kepada Rabb-mu” sebagai panggilan iman kepada Rabb-nya. Yang menciptakannya, memberikan rizki kepadanya, dan mendidiknya dengan segala nikmatnya, baik kecil maupun besar”

    [lihat : Badaa-i’ul-Fawaaid, 3/132-133].

    Oleh karena itu, sesungguhnya nasihat yang disampaikan dengan adab, maka akan diterima dengan hati dengan lapang dada, jiwa akan menyambutnya, dan pendengaran pun akan merasa tenang.

    Sesungguhnya Rabb kami, Allah ta’ala, telah memuji Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan memberikan watak lemah lembut padanya dan menjadikannya mencintai kelembutan, menjauhkan darinya kekerasan, dan ketidaksopanan.

    Allah ta’ala berfirman :

    وَلَوْ كُنْتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ

    ”….Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu……..” [QS. Aali Imraan : 159].

    Sesungguhnya perjalanan beliau Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam penuh dengan sifat-sifat mulia dan luhur seperti ini. Siapa saja yang dapat memilikinya, maka ia akan menguasai hati dan meluluhkannya. Sebagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mempraktekkan sifat yang satu ini, beliau juga telah memerintahkan agar sifat ini dikerjakan oleh setiap muslim dan beliau telah menjelaskan keutamaannya.

    Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

    يا عائشة إن الله رفيق يحب الرفق ويعطى على الرفق ما لا يعطى على العنف وما لا يعطى على ما سواه

    ”Wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah itu lembut dan menyukai kelembutan. Dan Dia akan memberikan sesuatu dengan kelembutan apa yang tidak diberikannya dengan kekerasan dan tidak pula diberikan dengan yang lainynya” [HR. Muslim no. 2593].

    Dalam sabdanya yang lain :

    إن الرفق لا يكون في شيء إلا زانه ولا ينزع من شيء إلا شانه

    ”Sesungguhnya kelembutan itu tidak berada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya. Dan tidak dihilangkan darinya kecuali akan menghinakannya” [HR. Muslim no. 2594].

    Ketika beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengutus Abu Musa Al-Asy’ary dan Mu’adz radliyallaahu ‘anhuma ke Yaman, beliau berkata kepada keduanya :

    يسرا ولا تعسرا وبشرا ولا تنفرا وتطاوعا ولا تختلفا

    ”Permudahlah jangan persulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari. Bersatulah dan jangan berseleisih” [HR. Al-Bukhaariy no. 6124 dan Muslim no. 1733].

    Imam Ahmad rahimahullah berkata : ”Beliau memerintahkan kepada kelembutan dan ketundukan, sehingga apabila mereka memperdengarkan kepadanya apa yang dibencinya, maka ia tidak akan marah, karena beliau ingin menguasai dirinya” [Jaami’ul ‘Ulum wal-Hikam, 2/456].

    Sesungguhnya sangatlah baiklah orang yang bersenandung (sya’ir) :

    لو سار ألف مدجج في حاجة ** لم يقضها إلا الذي يترفق

    “Seandainya seribu landak berjalan untuk memenuhi kebutuhannya, ia tidak akan memenuhinya kecuali yang berjalan dengan kelembutan” [Raudlatul-‘Uqalaa’, hal. 216].

    Pernah dikatakan : “Barangsiapa yang ucapanya lembut, maka wajiblah baginya dicintai” [Al-Bayaan wat-Tabyiin oleh Al-Jahizh].

    Kelembutan dan kehalusan percakapan adalah merupakan hal yang harus diwujudkan saat memberi nasihat. Dan hal tersebut lebih pantas menjadi watak dari seorang pemberi nasihat, karena saat menasihati berbeda dengan saat membantah, perdebatan, dan diskusi.

    Namun, selain itu ia juga terkadang memerlukan ketegasan. Dan itupun dalam kondisi-kondisi tertentu, untuk orang-orang tertentu pula, dan bagi orang yang berhak untuk mendapatkannya. Apabila seorang pemberi nasihat mempunyai kedudukan dan kondisinya meminta untuk memberikan nasihat dengan ketegasan dan tidak mengakibatkan kemudlaratan setelahnya, maka ia harus melakukan cara tersebut.

    Oleh karena itu Musa ‘alaihis-salaam bersikap sangat lemah lembut terhadap Fir’aun pada awal-awal dakwahnya kepadanya – seperti yang baru saja berlalu —. Namun ketika ia melihat Fir’aun tidak menghiraukan dan bersikap sombong serta berusaha menghalangi petunjuk Musa ‘alaihis-salaam kepada kaumnya setelah petunjuk tersebut jelas bagi mereka, maka Musa ‘alaihis-salaam bersikap keras dan tegas dalam dakwahnya seperti firman Allah ta’ala :

    وَإِنّي لأظُنّكَ يَفِرْعَونُ مَثْبُوراً

    ”…Dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir’aun, seorang yang akan binasa” [QS. Al-Israa’ : 102].

    Bagaimanakah dengan pembicaraan ini dibanding dengan percakapan yang pertama ? Seperti halnya firman Allah ta’ala :

    وَلاَ تُجَادِلُوَاْ أَهْلَ الْكِتَابِ إِلاّ بِالّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلاّ الّذِينَ ظَلَمُواْ مِنْهُمْ

    ”Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik. Kecuali dengan orang-orang dhalim diantara mereka….” [QS. Al-Ankabuut : 46].

    Dan juga perkataan Ibrahim ‘alaihis-salaam kepada kaumnya :

    أُفّ لّكُمْ وَلِمَا تَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللّهِ أَفَلاَ تَعْقِلُونَ

    ”Ah (celaka) kamu dan apa yang kamu sembah selain Allah. Maka apakah kamu tidak memahami?” [QS. Al-Anbiyaa’ : 67].

    Bahwasannya Nabi kita pun, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, memakai cara-cara seperti ini apabila dibutuhkan. Diantaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dalam sebuah kisah seorang perempuan dari suku Makhzum yang telah mencuri. Dari ‘Aisyah radliyallaahu ‘anhaa : Bahwasannya suku Quraisy sangat terganggu dengan kejadian seorang perempuan dari suku Makhzum yang mencuri. Mereka berkata : ”Siapakah yang akan berbicara kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang masalah ini?” Dan siapakah yang berani kecuali Usamah, kecintaan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”. Maka ia berbicara kepada beliau, lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya : ”Apakah kamu akan memberi syafa’at pada hukum-hukum Allah?”. Lalu beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkhutbah pada masyarakat lalu bersabda :

    ”Wahai manusia, sesungguhnya hal yang menyesatkan orang-orang terdahulu adalah apabila seorang yang mulia mencuri maka mereka akan membiarkannya. Dan apabila orang yang lemah mencuri, maka mereka melaksanakan hukuman kepadanya. Demi Allah, seandainya Fathimah binti Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam mencuri, maka Muhammad sendiri yang akan memotong tangannya” [HR. Al-Bukhaariy no. 6788 dan Muslim no. 2648].

    Anda sedang membaca artikel yang berjudul ” Lembut Dalam Berbicara & Menghindari Kata-Kata Yang Tidak Berarti “

    Dalam Shahiih Al-Bukhaariy dan Shahiih Muslim dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu bahwasannya ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam :

    ليس صلاة أثقل على المنافقين من الفجر والعشاء ولو يعلمون ما فيهما لأتوهما ولو حبوا لقد هممت أن آمر المؤذن فيقيم ثم آمر رجلا يؤم الناس ثم آخذ شعلا من نار فأحرق على من لا يخرج إلى الصلاة بعد

    ”Tidak ada shalat yang paling berat bagi orang-orang yang munafiq kecuali shalat shubuh dan ‘isya’. Seandainya mereka mengetahui (ganjaran) apa yang ada dalam keduanya, maka niscaya mereka akan mendatanginya walaupun harus merangkak. Sesungguhnya aku ingin untuk menyuruh muadzdzin untuk melakukan iqamat dan menyuruh seseorang menjadi imam shalat yang menggantikanku, lalu aku membawa api dan membakar mereka yang belum keluar melakukan shalat jama’ah di masjid” [HR. Al-Bukhaariy no. 657 dan Muslim no. 651].

    Sesungguhnya Imam Al-Bukhaariy telah membuat suatu bab dalam kitab Al-Adab dari Shahiih-nya, yang ia namakan : “Bab Maa Yajuuzu minal-Ghadlabi wasy-syiddati li amrillaahi” (Bab : Bolehnya Seseorang untuk Marah dan Bersikap Keras dalam Menegakkan Perintah Allah ta’ala). Lalu menyebutkan di dalamnya lima hadits.

    Rangkuman masalah tersebut adalah bahwasannya kelembutan merupakan dasar. Ia merupakan hal yang paling sesuai dengan sikap pemberi nasihat selama kekerasan belum dibutuhkan. Dan kekerasan tidak selamanya cocok dengan setiap orang, khususnya mereka yang tidak memiliki umum yang lebih tua, ilmu, kedudukan, atau penerimaan dari masyarakat.

    Demikian artikel tentang ” Lembut Dalam Berbicara & Menghindari Kata-Kata Yang Tidak Berarti ” semoga memberi manfaat pagi pembaca. Jika anda tertarik untuk belajar ilmu syar’i lebih dalam bisa bergabung untuk kuliah online bersama ustadz-ustadz sunnah. Info selengkapnya disini.

    Allahu a’lam.

    [Ditulis kembali oleh Abu Al-Jauzaa’ dari Aadabul-Mau’idhah
    (terjemahan Indonesia dengan judul : Kiat Istimewa agar Nasihat Diterima – Pustaka Ibnu Katsir)]